19.48
0
PENUSUKAN KEBO BULE

Kerbau Bule Kiai Bagong Akhirnya Mati setelah Luka Tusuk 21 Hari
Kebo bule atau krbau bule milik Kasunanan Surakarta Hadiningrat (Septian Ade Mahendra/JIBI/solopos)Kebo bule atau krbau bule milik Kasunanan Surakarta Hadiningrat tinggal 11 ekor sepeninggal Kiai Bagong, Selasa (4/11/2014). (Septian Ade Mahendra/JIBI/solopos)
Solopos.com, SOLO —Setelah ditusuk senjata tajam berupa pelat besi sejenis tombak pada leher sisi kanan, Rabu (15/10/2014) lalu, kerbau bule yang bernama Kiai Bagong, akhirnya menghembuskan napas terakhir, Selasa (4/11/2014) sekitar pukul 19.00 WIB. Sanjata yang digunakan pelaku diduga mengandung racun yang menyebabkan tewasnya kerbau keturunan pasangan tombak pusaka Kasunanan Surakarta Hadiningrat Kiai Slamet itu.

    “Tidak ada ritual khusus, hanya doa-doa saja. Beberapa warga biasanya juga langsung spontanitas memberi kain mori dan bunga.”

Sebelumnya, kerbau bule itu ditusuk di bagian leher dan perut saat dikandangkan di wilayah Solobaru, tepatnya di Desa Gedangan, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo. Berdasarkan bekas lukanya, pelaku diduga sengaja menusuk sisi kanan dan kiri leher kerbau bule itu. Pada akhirnya, orang tak dikenal itu berhasil menusuk leher sisi kanan yang tembus hingga bagian lambung kebo bule pasangan pusaka Kasunanan Suurakarta Hadiningrat itu.

Wakil Pengageng Sasana Wilapa Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, K.P. Winarno Kusumo, saat dihubungi Solopos.com, Selasa malam, mengaku mendapatkan kabar kematian kerbau bule peliharaan keratonnya itu pukul 19.00 WIB. Winarno memprediksikan senjata tajam yang digunakan menghabisi kebo bule warisan budaya Keraton Solo itu sejenis tombak itu diduga diberi racun. Daya tahan kerbau dan manusia, kata dia, lebih kuat kerbau karena bisa bertahan sampai 21 hari.

Hujan deras mengiringi prosesi pemakaman kerbau itu di Alun-alun Selatan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Selasa malam. Proses pemakaman binatang keramat itu dilakukan bak manusia. “Saya dapat kabar proses penggaliannya sudah selesai sekarang [kemarin pukul 22.00 WIB]. Tidak ada ritual khusus, hanya doa-doa saja. Beberapa warga biasanya juga langsung spontanitas memberi kain mori dan bunga,” kata dia.

66 Tahun
Kiai Bagong mati pada umur genap 66 tahun—hampir sama dengan umur K.P. Winarno Kusumo. Dengan tewasnya kerbau itu, jumlah koleksi kerbau bule Keraton berkurang, dari 12 ekor menjadi 11 ekor. Kebo bule itu dalam tradisi Keraton Solo menjadi bagian dari tradisi kirab 1 Sura sejak perpindahan Keraton Kartasura Hadiningrat ke Keraton Surakarta Hadiningrat pada 1745 silam.

Keberadaan kerbau bule di Kasunanan semula berfungsi sebagai binatang persembahan, namun lambat laun menjadi binatang peliharaan. “Nama Kiai Slamet itu pun sebenarnya bukan nama kerbaunya, tetapi nama pusaka yang dikirab bersama kerbau bule pada masa PB [Paku Buwono] X. Saat perpindahan keraton dari Kartasura ke Surakarta itu juga ditandai hujan 100 hari. Untuk upacara wilujengan maka kepala kerbau bule yang digunakan untuk persembahan. Tapi, sekarang karena kerbau itu jinak dan kami kasihan, maka kerbau bule menjadi binatang peliharaan,” kisah Winarno.

Kerbau itu tinggal di Desa Gedangan selama 20 tahun dan jarang digunakan untuk proses kirab pusaka. Winarno menerangkan pihak Keraton sempat meminta kembali kerbau itu ke Keraton, tetapi warga Gedangan mempertahankan. Kerbau itu, kata dia, menjadi pejantan bagi perkembangbiakan kerbau bule di desa itu. “Jadi, matinya kerbau itu tidak berpengaruh pada keberadaan kerbau bule di Keraton, hanya jumlahnya yang berkurang,” jelas dia. (sumber solo pos)

Sebelum mati, kebo bule Kiai Bagong sempat pamitan ke pawang

Merdeka.com - Kiai Bagong, salah satu kerbau pusaka milik Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat keturunan Kiai Slamet, Selasa (4/11) malam tewas. Kerbau yang sering dikeramatkan saat malam 1 Suro itu, tak kuasa menahan sakit setelah ditusuk benda tajam di bagian perut dan kaki oleh orang tak dikenal beberapa waktu lalu.

Ada cerita unik sebelum kematian Kiai Bagong. Menurut kerabat keraton yang juga Wakil Pengageng Museum dan Pariwisata, Kanjeng Raden Mas Haryo (KRMH) Satriyo Hadinagoro, beberapa hari sebelum mati, kebo bule itu sempat berpamitan kepada salah satu pawang, bernama Sukir. Meskipun hanya bahasa isyarat, namun kedua makhluk Tuhan tersebut bias saling memahami satu sama lain.

"Kiai Bagong itu sebelum meninggal sempat pamitan sama Sukir, serati (pawang) kebo. Dia beberapa hari hanya diam saja di hadapan Sukir. Kata Kiai Bagong, dia sudah tidak kuat menahan sakitnya, dan hanya menunggu sangat (hari baik) saja," ujar Satriyo kepada merdeka.com, Rabu (5/11).

Terkait waktu meninggalnya Kiai Bagong yang bertepatan dengan malam penutupan Sura atau malam Assura, Satriyo mengimbau masyarakat agar tak mengaitkan hal tersebut dengan sesuatu yang mistis. Masyarakat diajak untuk mengambil makna dari peristiwa tersebut, untuk bisa diambil hikmahnya.

"Tak ada makna apa-apa terkait kematian kebo bule. Masyarakat jangan nggathuk-nggathukke (mengait-ngaitkan) peristiwa tersebut dengan klenik, mistis. Kita tunggu saja, apa yang akan terjadi. Semoga maknanya baik buat kita semua, kita positif thinking aja," katanya.

Mengenai laporan kepolisian, pihak keraton, lanjut Satriyo tidak akan melanjutkannya. Keluarga telah memaafkan pelaku yang hingga saat ini belum diketahui. Hanya saya pihaknya menyayangkan, ada orang yang tega menganiaya sesama makhluk ciptaaNya.

Saat ditanyakan tentang kewibawaan keraton yang mulai memudar dengan terbunuhnya Kiai Bagong, Satriyo membantahnya.

"Wah, nggak ada kaitannya itu. Keraton Surakarta tetap akan eksis sampai kapanpun. Kalau sampai pudar itu pudar yang mana ? Lebih baik kita nggak usah ngotak-atik saja, kita lihat saja dengan positif thinking, lebih baik," pungkasnya. (sumber merdeka)

0 komentar:

Posting Komentar